Kamis, 13 September 2012

Pengajaran Perbaikan (Remedial Teaching)

 By: Reny, Ida, & Falla.



A.      Pengertian Pengajaran Perbaikan
1.      Pengertian
Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan singkat: pengajaran yang membuat menjadi baik. Telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, seorang pendidik pasti menginginkan anak didiknya dapat mencapai hasil belajar yang baik. Dari sekian banyak anak didik, apabila ada yang belum bisa mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya, maka pengajaran perbaikan merupakan pengajaran yang berfungsi menolong anak tersebut untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan. Pengajaran perbaikan ini bersifat khusus karena disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang dihadapi anak didik.
Remedial teaching berasal dari kata Remedy (Inggris) yang artinya menyembuhkan. Istilah pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk anak luar biasa yang mengalami berbagai hambatan (sakit). Dewasa ini pengertian itu sudah berkembang seperti uraian di atas. Sehingga anak yang normalpun memerlukan pelayanan pengajaran remedial (Remedial Teaching).
Pengajaran perbaikan ini juga disebut penyembuhan karena bertujuan menyembuhkan gangguan keribadian yang dapat menimbulkan kesulitan dalam proses belajar anak didik. Proses penyembuhan tetntu saja ada yang membutuhkan waktu singkat dan ada pula yang membutuhkan waktu cukup lama. Hal ini tergantung pada sifat, jenis dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi murid.


2.      Tujuan Pegajaran Perbaikan
Secara umum tujuan pengajaran perbaikan tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan sekolah  melalui proses perbaikan.
Secara terperinci tujuan pengajaran perbaikan yaitu:
a.         Agar siswa dapat memahami dirinya khususnya prestasi belajarnya.
b.         Dapat memperbaiki/mengubah cara belajar ke arah yang lebih baik.
c.         Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
d.        Dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
e.         Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.

3.         Fungsi Pengajaran Perbaikan
Dalam keseluruhan proses pengajaran perbaikan mempunyai fungsi:
a.         Korektif
Artinya pengajaran perbaikan dapat diadakan pembetulan atau perbaikan antara lain:
1)      Perumusan Tujuan,
2)      Penggunaan Metode,
3)      Cara-Cara belajar,
4)      Materi dan Alat Pelajaran,
5)      Evaluasi,
6)      Segi-segi Pribadi, dan lain-lain.
b.         Pemahaman
Artinya dari pihak guru, anak didik atau pihak lain bisa lebih memahami kondisi siswa.
c.         Penyesuaian
Artinya anak didik dapat  belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga anak didik dapat benar-benar mengoptimalkan kemampuannya. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan yang dialami sehingga mendorong untuk lebih belajar.
d.        Pengayaan
Maksudnya pengajaran perbaikan dapat memperkaya proses belajar mengajar pada anak didik. Melalui pengayaan, anak ddik dapat memperoleh materi lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya.
e.         Akselerasi
Maksudnya pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar baik dari segi waktu atau materi yang diberikan.
f.          Terapsutik
Secara langsung atau tidak pengajaran perbaikan dapat menyembuhkan kondisi pribadi yang kurang baik. Sehingga penyembuhan ini dapat menunjang pencapaian prestasi belajar dan pencapaian prestasi yang baik dan berpengaruhterhadap pribadi.

B.       Pentingnya Pengajaran Perbaikan
Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan sendiri tidak akan diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya suatu pengajaran.
Seperti pada uraian tersebut di atas dalam hubungannya kegiatan-kegiatan proses belajar-mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan perlengkapan arti proses pengajaran secara keseluruhan. Dengan demikian pengajaran perbaikan ini perlu dapat dilihat dari segi:
a.    Siswa
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap siswa dalam proses belajar mengajar mempunyai hasil yang berbeda-beda. Dalam pedagogik perbedaan individual ini harus diterima/merupakan prinsip dalam setiap situasi pendidikan.
Atas dasar ini perlu ada pelayanan yang bersifat individual dalam proses belajar mengajar yang menyangkut masalah bahan, metode, alat, evaluasi dan sebagainya. Ada beberapa perbedaan individual yang menjadi dasar perhatian antara lain:
1)        Pebedaan kecerdasan,
2)        Perbedaan hasil belajar,
3)        Perbedaan bakat,
4)        Perbedaan sikap,
5)        Perbedaan kebiasaan,
6)        Perbedaan pengetahuan,
7)        Perbedaan kepribadian,
8)        Perbedaan kebutuhan,
9)        Perbedaan cita-cita,
10)    Perbedaan minat,
11)    Perbedaan fisik, dan
12)    Perbedaan lingkungan.
Atas dasar perbedaan individual ini guru dalam proses belajar mengajar harus menggunakan berbagai pendekatan dengan menggunakan suatu anggapan: bila siswa mendapat kesempatan belajar sesuai dengan pribadinya dapat diharapkan mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya.
Untuk membantu setiap pribadi dalam mencapai prestasi yang optimal digunakan pendekatan pengajaran perbaikan Remedial teaching.
b.    Guru
Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai funggsi ganda yaitu sebagai instruktor, konselor, petugas psikologis, sebagai media, sebagai sumber dan sebagainya.
Dalam fungsinya yang ganda ini guru bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pengajaran khususnya peningkatan prestasi belajar.
Dalam rangka ini pengajaran perbaikan merupakan peluang yang besar bagi setiap siswa untuk mencapai prestasi belajar secara optimal.
c.    Proses pendidikan
Dalam proses pendidikan, bimbingan dan penyuluhan merupakan kelengkapan dari keseluruhan proses atau pelaksanaan program. Melalui pelayanan bimbingan dan penyuluhan diharapkan siswa mencapai perkembangan pribadi yang integral.
Dengan demikian pentingnya pengajaran perbaikan (remedial teaching) itu dapat dilihat dari berbagai segi yaitu atas dasar pertimbangan:
1)        Pedagogis,
2)        Psikologis,
3)        Didaktis,
4)        Metodis,
5)        Moral, dan lain-lain.

C.      Hubungan Pengajaran Perbaikan Dalam Proses Belajar Mengajar
Kurikulum yang terdapat pada sekolah-sekolah dewasa ini metode dan sistem penyampaiannya dipergunakan pendekatan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional (PPSI).
Pendekatan ini dianggap merupakan salah satu sistem yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang optimal dengan melalui satuan pelajaran.
Rumusan dan tujuan yang jelas akan memudahkan menyusun dan mengembangkan bahan pengajaran, alat pengajaran serta rencana dan pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian proses belajar mengajar dengan pendekatan PPSI itu sebagai berikut:
1.    Merumuskan Tujuan Intruksional Khusus/Tujuan Khusus Pengajaran (TKP),
2.    Menyusun alat evaluasi,
3.    Menentukan:
a.         Materi pelajaran,
b.         Kegiatan belajar mengajar (metode, alat sumber).
4.    Melaksanakan pengajaran dan evaluasi,
5.    Umpan balik:
a.         Revisi program,
b.         Remidiasi.

D.      Sifat-sifat Khusus Pengajaran Pengajaran Perbaikan
Kekuasaan pengajaran perbaikan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan  belajar yang diderita siswa. Tekanannya pada usaha perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar menyangkut masalah: cara belajar, metode belajar, materi, alat, lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar.
Sehubungan dengan masalah ini maka perlu kiranya dipahami oleh para guru atau petugas bimbingan, setidak-tidaknya diketahui prinsip-prinsipnya masalah-masalah yang menyangkut:
1.         Cara belajar siswa
Pada dasarnya siswa belajar melalui eksplorasi, coba-coba, rasa tidak senang, rasa gembira, imitasi, partisipasi, dan komunikasi.
2.         Kondisi belajar
Dalam setiap situasi belajar terutama dalam merancang kegiatan belajar perlu diketahui prinsip-prinsip yang mempengaruhi proses belajar yaitu kondisi belajar yang secara khusus berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan belajar. Kondisi yang mempengaruhi proses belajar itu baik kondisi umum maupun kondisi khusus untuk mempelajari segi-segi tertentu dalam kegiatan belajar.
a.    Kondisi umum
Dalam setiap situasi belajar setidak-tidaknya ada enam kondisi umum belajar yang harus diketahui guru atau pembimbing yaitu:
1)        Stimulasi belajar
Pesan yang diterima siswa berbentuk stimuli, dan stimuli itu dapat berbentuk: visual, auditif, verbal, taktil dan sebagainya. Dalam kegiatan belajar mengajar bahan yang disajikan harus dapat diterima oleh siswa atau dapat mengkomunikasikan informasi sebaik-baiknya.
2)        Perhatian dan motivasi
Tidak mungkin kegiatan belajar terjadi tanpa perhatian motivasi dari pihak siswa. Pikiran mungkin membutuhkan tingkat perubahan masukan sensoris yang agak tinggi untuk membuat senantiasa waspada.
Jika stimuli pengajaran tidak memberikan kebutuhan tingkat masukan sensoris mungkin siswa akan mengadakan proses internal informasi lain (berpaling kemasalah lain), bahkan mungkin menutup diri dari seluruh proses belajar.
Oleh karena itu selalu timbul dari stimuli maka variasi adalah suatu cara yang efektif untuk mempertahankan perhatian karena:
a.         Sementara siswa mungkin lebih siap dalam suatu cara atau situasi tertentu
b.        Jumlah kemampuan untuk transfer informasi dapat dikembangkan melalui berbagai variasi penyajian.
3)        Respon yang dipelajari
Oleh karena belajar itu proses aktif, maka siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang dipelajari. Pelibatan ini meliputi perhatian, proses internal dalam informasi, serta tindakan yang nyata.
4)        Penguatan dan umpan balik
Secara teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya.
5)        Pemakaian dan pemindahan
Pikiran manusia sanggup menyimpan informasi  dan kata-kata dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Oleh karena itu penting pengaturan dalam menempatkan informasi sehingga dapat digunakan kembali sewaktu-waktu diperlukan.
6)        Kemampuan belajar
Organisasi manusia adalah suatu sistem belajar yang sangat efektif. Telah dikembangkan dalam organisme manusia kemampuan tertentu yang unik untuk memproses informasi dan melaksanakan kegiatan belajar. Oleh karena itu belajar yang efektif harus dapat mengambil manfaat dari semua kemampuan manusia:
a)        Kemampuan untuk mengenal dan menhubungkan pola visual,
b)        Kemampuan mengamati waktu,
c)        Kemampuan menentukan tujuan,
d)       Kemampuan verbal yang memungkinkan komunikasi.
b.    Kondisi khusus
Ada lima jenis belajar khusus yang berlaku untuk kegiatan belajar tertentu yang berlainan yaitu:
1)        Kondisi belajar informasi
Adapun kondisi khusus belajar informasi, yaitu:
a)        Siswa perlu diberi penjelasan tentang apa yang harus dipelajari, hasil yang diharapkan, manfaat materi pelajaran baginya.
b)        Asas apersepsi  harus digunakan.
c)        Siswa diberi kesempatan berlatih.
d)       Dalam rangka mengingat kembali diberi latihan-latihan.
e)     Kadang-kadang belajar secara keseluruhan bila tidak ada hubungan logis dan sebaliknya belajar bagian demi bagian bila hubungan logis.
2)        Kondisi belajar konsep
Mempelajari konsep mempunyai tiga dimensi yaitu:
a)        Pengembangan secara internal pola mental yang memberikan perasaan dan kemampuan untuk menggunakannya,
b)        Verbalisasi, deskripsi, atau definisi,
c)        Pemberian nama untuk konsep tersebut.
d)       Kondisi khusus belajar konsep yaitu:
e)        Direnungkannya arah atau orientasi dan aplikasi konsep,
f)         Peninjauan unsur prasyarat,
g)        Stimuli yang sederhana disajikan dari unsur-unsur secara simultan atau dalam urutan yang erat,
h)        Perluas asosiasi dengan contoh,
i)          Pertajam kemampuan diskriminasi dengan banyak contoh,
j)          Berikanlah latihan untuk meninjau kembali, dll.
3)        Kondisi belajar prinsip
Prinsip yaitu pola antar hubungan fungsional antara konsep-konsep misalnya: penguapan, pembaharuan dan sebagainya. Belajar prinsip sama dengan belajar konsep. Sedangkan kondisi khusus belajar konsep sendiri yaitu:
a)        Perluas asosiasi dengan berbagai contoh,
b)        Secara umum bekerja mulai dari yang kongkrit sampai teori (abstrak) dari sederhana menuju komplek,
c)        Tinjau kembali dan latih penggunaan prinsip.
4)        Kondisi belajar keterampilan
Ketrampilan dibedakan menjadi dua yaitu intelektual dan psikomotor yang memerlukan review atas kegiatan belajar terdahulu. Adapun kondisi khusus belajar ketrampilan yaitu:
a)        Tujuan dan nilai dijelaskan,
b)        Ditunjukkan demonstrasi dari yang mampu,
c)        Ketrampilan dasar diberikan,
d)      Untuk meningkatkan perbaikan perlu evaluasi kegiatan secara cepat dan umpan baliknya.
5)        Kondisi belajar sikap
Berbagai bentuk penguasaan sikap yaitu pengenalan perhatian, ganjaran. Adapun kondisi khusus belajar sikap yaitu:
a)        Sajikan pernyataan logis yang konsisten dari orang terhormat atau teman yang disegani,
b)        Suasana belajar bersahabat,
c)        Jika sikap bertentangan dengan nilai sosial maka lingkungan sosial diubah,
d)       Pelajaran dengan kelompok kecil dapat memberi penguatan,
e)        Penguatan dari pengajar dan kelompok terus menerus tetap diharapkan.
3.         Strategi pengajaran 
Strategi pengajaran berhubungan dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dan efisien dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Dengan kata lain strategi pengajaran adalah kegiatan yang dipilih guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan kepada siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Secara umum pemilihan strategi pengajaran dipengaruhi oleh :
a.         penerimaan pengetahuan,
b.         aplikasi pengetahuan,
c.         tujuan yang bersifat perubahan sikap (perasaan).
4.         Hubungan guru – siswa
Hubungan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang diharapkan adalah hubungan manusiawi. Maka yang penting bagi guru ialah bagaimana membawa siswa memperoleh pengertian sesuai dengan pribadinya. Mengenai tujuan pendidikan yang penting menurut aliran humanistik itu ialah menyadarkan kemampuan anak sendiri, membantu mereka bagaimana memahami pribadi orang lain, menyiapkan mereka masa mendatang, melatih mereka berpikir dan mengambil keputusan sendiri. Atas dasar itu guru tidak lagi sebagai pusat kegiatan atau perhatian melainkan sebagai fasilitator, yang membantu siswa mengembangkan kemampuannya. Untuk itu guru perlu mengusahakan iklim yang menunjang efektifitas belajar seperti:
a.         Memberi kebebasan siswa dalam menyelesaikan tugas,
b.         Mengusahakan suasana hangat,
c.         Menghargai siswa,
d.        Memberikan tugas-tugas yang menantang,
e.         Mengontrol disiplin siswa,
f.          Menilai keberhasilan, dan sebagainya.
5.         Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas menunjukkan kepada berbagai jenis kegiatan yang disengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk mempertahankan atau menciptakan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Pengelolaan kelas meliputi pengaturan tingkah laku antara ruang sehingga tercipta kemudahan-kemudahan dalam mengajar. Masalah-masalah yang berkenaan dengan pengelolaan ini meliputi kondisi dan situasi, administrasi teknik, dimensi pengelolaan, dan kedisiplinan siswa.
6.         Bidang studi
Pengetahuan tentang psikologi bidang studi perlu diketahui bagi guru maupun konselor yaitu:
a.         Bahasa
Efektivitas dalam bidang studi banyak tergantung dari penguasaan bahasa. Faktor-faktor psikis yang mempengaruhi perkembangan dan kemampuan bahasa yaitu lingkungan anak, intelegensi, emosi, dan alat bicara. Oleh karena itu guru diharapkan dapat melihat hambatan bahasa baik jasmani maupun pskis. Hambatan itu misalnya salah ucap, salah ejaan, selain tata bahasa kesalahan membaca. Dalam Remedial teaching, bahasa dapat diartikan sebagai bantuan pengajaran untuk membetulkan kesalahan yang sudah terjadi dan harus didahului dengan menghilangkan hambatannya.
b.         Berhitung atau matematika
Beberapa ahli seperti Brownwell, Kuechner dan Rein berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa Remedial teaching berhitung diartikan penyusunan kembali pengalaman yang telah diperoleh terlebih dahulu. Oleh karena itu usaha guru harus direncanakan secara matang dan dilakukan dengan ketekunan.
c.         Pengetahuan alam atau pengetahuan sosial
Pengamatan dan pengalaman adalah dasar dari mendapatkan pengertian dalam bidang pengetahuan alam dan pengetahuan sosial. Pengetahuan alam yang terutama adalah memberikan pengetahuan tentang isi alam semesta, bagaimana aktivitas kerjanya dan mengapa demikian. Sedang pengetahuan sosial menggunakan penemuan-penemuan dalam pengetahuan alam tentang apa yang berguna, apa yang baik bagi kesejahteraan umat manusia.

E.       Pendekatan Pengajaran Perbaikan
Macam-macam Pendekatan Pengajaran Perbaikan
1.    Pendekatan yang bersifat kuratif
Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa, bahkan mungkin seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan program secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat menggunakan pendekatan pengulangan, pengayaan atau pengukuhan, dan pencepatan. Pelaksanaannya dapat secara:
a.         Individual kalau ternyata yang mengalami kesulitan tarbatas.
b.         Kelompok kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu mempunyai jenis atau sifat kesalahan atau kesulitan bersama.
2.   Pendekatan yang bersifat preventif
Pendekatan ini ditujukan kepada siswa tertentu yang berdasarkan informasi diprediksikan akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Oleh karena itu, sasaran pokok dari pendekatan preventif ini adalah berusaha semaksimal mungkin agar hambatan-hambatan yang diprediksi itu dapat direduksi seminimal mungkin sehingga siswa yang bersangkutan diharapkan dapat mencapai prestasi dan kemampuan penyesuaian sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pendekatan preventif bertolak dari hasil pre-test atau evaluasi reflektif.
Atas dasar inilah, maka ada tiga kemungkinan teknik layanan pengajaran yang bersifat remedial, yaitu layanan pengajaran kelompok yang diorganisasikan secara homogen, layanan pengajaran secara individual, dan layanan pengajaran dilengkapi kelas khusus.
3.    Pendekatan yang bersifat pengembangan
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung. Sasaran pokok dari pendekatan ini ialah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil.
4.    Metode dalam pengajaran perbaikan (remedial)
Asal usul kata “metode” mengandung pengertian “suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan”. Metode barasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui, dan hodos berarti jalan atau cara. Bila ditambah dengan logi sehingga menjadi “metodologi” berarti ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan , yaitu :
1)        Tanya jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu memungkinkan terbinanya hubungan baik antara guru dan siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan sebagainya.
2)        Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/penyampaian baban pembelajara dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/membicarakan secara ilmiah guna mengupulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah. Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa.
3)        Tugas
Metode ini dapat digunakan untuk mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam materi yang telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
4)        Kerja kelompok
Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.
5)        Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.
6)        Pengajaran individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.

F.       Prosedur Pelassanaan Pengajaran Perbaikan
  Remedial teaching yang merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut:
  Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya. Tujuan penelitian kembali kasus ini adalah agar memperoleh gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara dan kemungkinan pemecahannya. Berdasar atas penelitian kasus akan dapat ditentukan murid-murid yang perlu mendapatkan Remedial teaching.
  Menentukan tindakan yang harus dilakukan: Dalam langkah ini, dilakukan usaha-usaha untuk menentukan karakteristik kasus yang ditangani tersebut. Setelah karakteristik ditentukan, maka tindakan pemecahannya harus dipikirkan, yaitu sebagai berikut:
a.    Kalau kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan Remedial teaching.
b. Kalau kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan Remedial teaching harus diberi layanan konseling lebih dahulu, yaitu untuk mengatasi hambatan-hambatan emosional yang mempengaruhi cara belajarnya. Berdasarkan atas karakteristik kasus tersebut, maka pada tahap kedua ini adalah membuat keputusan tentang cara mana yang harus dipilih. Untuk itu beberapa pertimbangan yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan adalah:
a.    Faktor efektivitas  yaitu ketepatan tercapainya tujuan Remedial teaching,
b.  Faktor efisiensi, yaitu edikitnya tenaga, bea dan waktu yang dipergunakan, namun hasilnya seoptimal mungkin,
c.    Faktor kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu, fasilitas dan kesempatan yang tersedia.
3.      Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling. Tujuan dari layanan khusus bimbingan penyuluhan ini adalah mengusahakan agar murid yang menjadi kasus ini terbatas dari hambatan mental emosional, sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar. Bentuk konseling di sini bisa berupa pdikoterapi yang dilakukan oleh psikolog. Tetapi ada kalanya kasus ini dapat dilakukan oleh guru sendiri.
4.      Langkah pelaksanaan Remedial teaching.
Sasaran pokok daripada langkah ini adalah peningkatan prestasi maupun kemampuan menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
5.      Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar.
Dengan diselesaikannya pelaksanaan Remedial teaching, maka selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap perubahan pada diri murid yang bersangkutan dengan alat tes sumatif.
6.      Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.
Hasil pengukuran yang dilakukan pada langkah ke lima kemudian ditafsirkan dengan membandingkan dengan kriteria seperti pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya. Adapun hasil penafsiran itu dapat terjadi tiga kemungkinan, yaitu:
a.       Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
b.      Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang diharapkan.
c.       Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi.

Sebagai tindak lanjut dan langkah Remedial teaching adalah adanya tiga kemungkinan:
a.       Bagi kasus yang berhasil, maka selanjutnya diteruskan ke program berikutnya.
b.  Bagi kasus yang belum berhasil sepenuhnya diserahkan pada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
c.  Bagi kasus yang belum berhasil, perlu didiagnosis lagi untuk mengetahui letak kelemahan Remedial teaching untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alernatif yang sama.
****


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Langgulung, Hasan. 1985. Pendidikan dan Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Al Husna.
M. Arifin. 1993. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hit counter
perfume